Kunci Sukses dalam Mengabdikan diri

Kunci Sukses dalam Mengabdikan diri

Gontor Putri – 14 Januari 2021, DEMA UNIDA Kampus Putri 1 telah mengadakan kajian bersama Al-Ustadz Zulfahmi Syukri Zarkasyi, M.Pd dengan tema ‘Pengabdian Totalitas Tanpa Batas, Self Healing Respect For Our Devotion’. Beliau memulai kajian dengan sebuah pertanyaan, “Ke Gontor apa yang kamu cari?”

Kalimat tersebut menjadi awal mula pembahasan yang akan beliau sampaikan. Beliau menyampaikan, “Ustadzah, ketika pertama kali kita menginjakkan kaki ke pondok akan selalu ada pertanyaan ini; apa tujuan kita ke sini? Ketika saya melihat tulisan; ke Gontor apa yang kamu cari?, pertama kali di samping gedung ADM ketika saya kelas 6 SD, lalu saya bertanya kepada salah satu ustadz. Ustadz ke Gontor apa yang ustadz cari? Jawabannya adalah kamu akan menemukannya ketika kamu sudah keluar dari Gontor. Tapi semenjak kejadian itu saya tidak pernah mencari jawabannnya karena saya tahu saya tidak akan pernah menjadi alumni Gontor, yang artinya saya selamanya akan di pondok,” jelas beliau. Jadi, ke Gontor apa yang dicari? Pengalaman dan wawasan. Apakah cukup dengan 4 tahun hingga 6 tahun kita di pondok?

“Di Gontor, kita tidak hanya diajarkan ilmu tetapi kita juga diajarkan bagaimana cara menghadapi tantangan kehidupan. Sudahkah kita memahami dan mempelajari sebelum kita terjun ke masyarakat? Dan jika kita sudah terjun ke masyarakat, bisakah kita mengamalkan apa yang sudah kita fahami dan pelajari,” tambah beliau.

Almarhum KH Abdullah Syukri Zarkasyi pernah mengatakan kepada kami sebagai kader pondok, “Jangan melek walang! Ketika mendapat masalah, buka mata kamu, telinga kamu, dan jangan pernah gengsi dalam melakukan segala sesuatu atau menghadapi suatu permasalahan.”

“Saya juga pernah mendengar KH Ahmad Suharto, M.Pd.I mengatakan kita masuk pondok bagaikan ikan masuk ke dalam kolam. Kita yang dulunya tidak punya apa-apa atau kosong dimasukkan ke Gontor sebagai lembaga pendidikan, dididik, dibina, diarahkan, diisi dengan banyak ilmu dan pengalaman kehidupan untuk mempersiapkan menjadi kader-kader umat. Antum ini disiapkan untuk menjadi pendamping-pendamping kader umat. Dan akan banyak sekali pertanyan-pertanyan yang kita dapati di masyarakat, namanya juga hidup,” tutur Ustadz Zulfahmi, begitu kami menyapa.

Lanjutnya, “Dulu ketika kecil, ibu berkata dengan sebuah pertanyaan; nak, kapan kamu besar? Ketika sudah besar, ada pertanyaan; kapan kita kuliah, kerja, dan menikah? Waktu sudah menikah akan ada pertanyan; kapan punya anak? Sudah punya anakpun akan ada pertanyan lagi; kapan nambah lagi? Hingga sudah punya anak, cucu, dan menjadi tua, akan ada pertanyaan lagi, yaitu kapan mati?”

“Jadi, dari lahir sampai kita meninggal selalu akan ada pertanyaan, bahkan ketika kita sudah dialam kubur akan ada pertanyaan. Man rabbuka? Intinya kita hidup tidak akan pernah terlepas dari pertanyan-pertanyan kehidupan. Maka ustadzah, dalam pengabdian ini kita akan selalu ada pertanyaan; sudah siapkah iman kita, akhlak kita, disiplin ibadah kita, dan mental kita dalam menghadapi banyak polemik di masyarakat?” demikianlah pertanyaan beliau sebagai bahan renungan.

Banyak alumni Gontor Putri yang sudah keluar lepas khimarnya (baca: hijabnya) karena belum siap imannya, akhlaknya, disiplin ibadahnya, dan juga mentalnya. Sehingga akan ada pertanyaan untuk santriwati bahkan ustadzah, jika liburan sudah memegang hp, ketemu guling dan bantal, apakah akan shalat tepat waktu?

Beliau juga bercerita bahwa dulu pernah ada 3 alumni yang sudah menyelesaikan pengabdian mereka masing-masing, datang menghadap Bapak Pimpinan untuk meminta ijazah. Ketika alumni ditanya hendak kemana tujuannya, mereka menjawab; mau ke sana dan ke sini. Seketika itu beliau langsung merobek ijazah mereka di depan mata mereka sendiri lalu menyuruh mereka kembali ke pondok tempat mereka mengabdi. Mengapa demikian? Karena hakikat ijazah bukanlah hanya lembaran kertas. Ijazah yang sebenarnya adalah pertanyaan kamu anaknya siapa, kamu lulusan mana dan kamu bisa apa? “Jika kita sudah terjun ke masyarakat, berikanlah ilmu dan wawasan kita dengan totalitas tanpa batas, atau yang sering kita sebut dengan kata all out. Jika kita sudah mengabdi kepada suami, berikanlah ilmu dan wawasan terbaik kita juga, all out,” tegas beliau.

Al-Ustadz Ahmad Hidayatullah Zarkasyi, M.A. pernah mengatakan, “Jadilah wanita solihah yang berakhlak mulia, wanita yang tangguh dan singa betina padang pasir.”

Loyalitas dan dedikasi kita akan diuji ketika kita sudah terjun ke masyarakat apalagi ketika kita terjun ke daerah pedalaman atau daerah pelosok-pelosok Indonesia. Ada kata-kata mutiara Gontor yang sesuai dengan apa yang harus kita lakukan dalam hidup ini; kita harus bisa bergerak dan menggerakan, berjuang dan memperjuangkan, hidup dan menghidupkan (K.H Abdullah Syukri Zarkasyi).

Dalam setiap kehidupan ada tujuan, maka totalitaslah dalam kehidupan. Mengajar dengan satu jari akan berbeda dengan menggunakan sepuluh jari. Wibawa akan datang jika kita terjun ke lapangan dan banyak prestasi, akan banyak orang yang menghormati kita tapi kita akan dipandang buruk jika kita hanya mengandalkan kehebatan kita. Di samping kita harus totalitas, harus diimbangi dengan niat yang baik, karena segala sesuatu harus didasari dengan niat. إنّما الأعمال بالنّيات

Keikhlasan anak Gontor tidak bisa diuji jika tidak dengan amal dan perbuatan, tapi jika sudah menjadi alumni, keikhlasan anak Gontor bisa diuji dengan materi. Ustadz Zulfahmi kembali bercerita, “Ada cerita dari alumni yang baru keluar kurang lebih dua bulan dan lepas khimar, dia bercerita kepada saya alasan mengapa dia buka jilbab dikarenakan tuntutan pekerjaan. Di benak saya kala itu muncul pertanyaan, apakah itu tujuan pendidikan diukur dengan materi? Kita sebagai guru atau seorang pendidik jangan berpikir kita dapat apa, tapi kita harus berpikir apa yang sudah kita beri. KH. Hasan Abdullah Sahal selaku pimpinan pondok selalu mengatakan always give, give, give and never take,” ingatnya.

Di akhir kajian, beliau juga memberikan trik-trik kesuksesan dalam mengabdi, kepada kami khususnya yang sedang mengabdi di Gontor Putri. Berikut beberapa poin yang telah diringkas:

  1. Selalu terlibat dalam setiap perjuangan pondok
    Terjun langsung ke lapangan, memperhatikan, mengontrol, mengawasi, dan harus menguasai masalah, serta check quality dan kepernahan.
  2. Totalitas sebagai kunci kesuksesan
    Totalitas artinya menyeluruh dalam mengetahui, memahami apa yang dikerjakan, tidak setengah-setengah. Juga totalitas dalam memahami masalah yang dihadapi. Seperti ketika kita sedang menulis skripsi, maka harus faham apa rumusan masalahnya dan ketika kita sudah menguasai masalah, maka kita akan berpikir dan bekerja keras. Inilah kunci kehidupan yang membuat kita sukses.
  3. Berpikir keras dengan tujuan yang jelas
    Tidak hanya berpikir keras dan bekerja keras, namun dorong juga dengan berdoa keras, bacakan al-fatihah 3 kali dan sebutkan apa tujuanmu, sebutkan keinginan dan tujuanmu dalam sujud terakhirmu. Maka Allah akan melihat usaha dan kerja kerasmu. Setelah itu semua, tanamkan self development ke dalam diri kita, yaitu dengan mendorong usaha dan doa kita dengan selalu yakin dan optimis. Awalilah hidupmu dengan sejuta senyuman karena hakikat kehidupan adalah hati yang tenang dan nyaman, tidak selamanya mahal membuat kita bahagia tapi yang sederhana dan terlihat indah lebih dari cukup.
  4. Motivasi diri sendiri
    Kita juga harus bisa memotivasi diri sendiri, kemudian baru kita bisa mensupport anak didik kita, no time for ecek-ecek.
  5. Istiqomah dalam segala hal
    Ketahuilah bahwasanya orang yang sedang mendapatkan ujian berarti ia sedang dinaikkan derajatnya oleh Allah. Ujian kehidupan pasti ada, tapi bagaimana kita menyikapinya. Istiqomah dalam kebaikan dan dalam segala hal walaupun ujian selalu datang bergantian. Istiqomah dalam niat awal kita, yaitu mengabdi dan mengemban amanah.
  6. 6S (Senyum, sapa, salam, sopan, santun, dan selalu siap)
    Terapkan 6S dalam bermuamalah dengan orang lain dan dalam menghadapi apapun. Katakanlah, “Saya siap ditempatkan di manapun untuk mengabdi.” Siap ditempa dan di tempatkan di manapun, siap memimpin dan siap dipimpin. 

Jadi, pelajaran yang bisa diambil dalam kajian ini adalah kita harus punya prinsip hidup yang jelas dan terarah tidak ikut-ikutan, apalagi jika sudah terjun ke masyarakat seharusnya kitalah yang membina, memimpin dan mengarahkan mereka karena salah satu Motto Pondok kita adalah “Siap memimpin dan siap dipimpin”.

Dan seperti yang kita ketahui, bahwa orang besar menurut Gontor bukanlah yang berpangkat tinggi melainkan ia yang ikhlas mengajar ditempat pelosok sekalipun, totalitas tanpa batas. Akan selalu ada pertanyaan tentang amanah dan tanggung jawab kita, karena pondok tidak meminta apapun kepada kita. Cukup kita bermanfaat untuk orang disekitar kita. MaasyaaAllah, setingkat kita sudah menjadi alumni, pondok akan selalu mendoakan kita. Maka akan selalu muncul pertanyaan ke dalam diri kita, “Ke Gontor apa yang kau cari, di Gontor apa yang kau lakukan, dan dari Gontor apa yang kau beri?”


(Au. Ayu Aprilia, PBA 6/Ed. RN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *