Seminar Nasional Pendidikan: Aktualisasi Teknologi Pendidikan dalam Menguatkan Kurikulum Pendidikan Islam di Indonesia

Seminar Nasional Pendidikan: Aktualisasi Teknologi Pendidikan dalam Menguatkan Kurikulum Pendidikan Islam di Indonesia

UNIDA Gontor – Hall Auditorium gedung utama menjadi tempat seminar nasional pendidikan dengan tema “Aktualisasi teknologi pendidikan dalam menguatkan kurikulum pendidikan Islam di Indonesia” yang diselenggarakan Fakultas Tarbiyah dengan menghadirkan dua pemateri yang sudah memiliki pengalaman dan kapabilitas di dunia pendidikan cukup lama yakni Prof. Dr. Imam Suprayogo, M.A, dan Dr. Agus Budiman, M.Pd, Acara ini dihadiri Dosen, Civitas Akademika Fakultas dan Mahasiswa lintas fakultas senin 16 Maret 2020.

Prof. Dr. Imam Suprayogo, M.A selaku pemateri menyampaikan bahwa ukuran kemajuan dalam agama Islam tidak hanya bersifat fisik. Jika itu ukurannya maka kita akan tertinggal jauh dari negara-negara maju di belahan bumi seperti Jepang, Amerika latin, Rusia dan sebagainya tentu negara ini lebih maju namun sejatinya kemajuan ini hanya bersifat fisikal semata.

Agama yang dibawa oleh para nabi dan rasul sangat berbeda dengan ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan ini hasil ciptaan dari manusia dengan kekuatan nalar, observasinya, penelitiannya hingga melahirkan sains dan teknologi. Agama sendiri memiliki peran dan fungsi untuk memperbaiki akhlak manusia melalui pendidikan hati, karena hati tidak akan mampu di bina atau diperbaiki hanya dengan teknologi, sentuhan agamalah yang efektif untuk merubah itu. Begitu ungkap tokoh yang terkenal dalam ide-ide pembaharuan ummat islam

Beliau menambahkan bahwa esensi dalam agama, ruh manusia adalah pusat pengendali atas apa yang akan dilakukan oleh seluruh anggota tubuh, kesemuanya itu hanyalah pembantu. Oleh karenanya agar output dari sebuah institusi pendidikan dapat sesuai dengan apa yang sejalan dengan agama, pendidikan ruh sangat perlu diberikan tidak hanya mendidik pembantunya seperti akalnya, tangannya dan anggota yang lain, sebagai pusat pengendali haruslah yang diutamakan.

Problematika inilah yang harus diselesaikan, tentu salah satu solusi bagi institusi pendidikan agar lulusannya dapat menjalankan dan menerapkan tidak hanya sekedar konsep pemahaman atas apa yang sudah dipelajari dengan memberikan nutrisi yang seimbang bagi ruh manusia tersebut.  Guru besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ini juga menggaris bawahi bahwa pendidikan adalah sebuah pengalaman sehingga tak akan luntur oleh waktu.

Prof. Dr. H. Imam Suprayogo bersama Bapak Rektor UNIDA Gontor dan peserta seminar berpose bersama

Pada sesi ke dua Dr. H. Agus Budiman, M.Pd. menitik beratkan bahwa sumber belajar saat ini bisa dari siapa saja dan dari apa saja, mengingat perkembangan teknologi akhir-akhir ini cukup mutahir maka sangat memungkinkan hal ini dapat terjadi. Beliau juga mengilustrasikan sumber belajar sama halnya dengan sumber air. Maknanya kapan saja bisa di temukan dan di gunakan, karena jika saat ini kita masih memiliki midset belajar hanya melalui guru di kelas itu akan tertinggal jauh dari orang-orang yang mengedepankan kehidupan dunia semata.

Sehingga pengembangan proses untuk sampai pada tujuan belajar melalui tiga fase, yaitu fase penciptaan, pemanfaatan dan pengelolaan. Tentu saja ketiga unsur ini haruslah di desain dengan matang dan memiliki kesesuaian baik itu ajaran agama serta dapat diterima oleh peserta didik. Untuk itulah berfikir cerdas sangat diperlukan hingga menghasilkan grand design terbaik bagi kemaslahatan ummat.

Diakhir sesi, Prof. Dr. H. Imam Suparayogo, M.A. yang merupakan pemegang rekor MURI untuk konsistensi menulis setiap hari di blog tiga tahun tanpa jeda hingga memiliki sekitar 4.600 artikel mengutip terkait hadits nabi yakni ajarilah anakmu untuk berenang, berkuda dan memanah. Ketiga unsur ini tidaklah hanya difahami dalam hal sempit, haruslah luas agar memahaminya lebih spesifik karena kaya akan nilai filosofis.

Kenapa ketika itu rasul memerintahkan orang tua untuk mengajari anaknya berenang padahal kala itu beliau berada di Mekkah yang jauh dari perairan, filosofinya karena berenang berarti bergerak. Maka ajarilah anak-anak untuk melakukan segala hal kebaikan hingga itu menjadi kebiasaannya, dengan sendirinya itu akan melekat dan tidak akan hilang darinya karena sudah terbiasa dan menjadi kebiasaannya hingga dewasa.

Berkuda sendiri filosofinya bahwa kuda mau diajak kemana saja asalkan sang tuan melakukannya dahulu, ini kental sekali dengan prinsip hidup manusia karena jika ingin mengajak manusia terlebih dahulu lakukan hal tersebut agar dapat dijadikan tauladan bagi orang selanjutnya. Selanjutnya hakikat memanah identik dengan fokus, sehingga antara agama dan ilmu pengetahuan haruslah berjalan beriringan menuju kemajuan ummat dimasa mendatang. [Syahrul]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *