Dosen Fakultas Tarbiyah Mengisi Pembekalan Guru Baru di Ponpes Darussalam Rajapolah Tasikmalaya

Dosen Fakultas Tarbiyah Mengisi Pembekalan Guru Baru di Ponpes Darussalam Rajapolah Tasikmalaya

Sabtu, 18 Juni 2022.
Pukul 04 pagi, bus sampai di Ciamis. Alun-alun. Lalu selanjutnya tiba di Tasikmalaya. Dan berakhir di Pool Budiman Tasikmalaya. Sekitar 04.30an, saya turun dan saya telepon 2 guru yang menjemput saya. Dari pondok Darussalam Tasikmalaya. Ustadz Daeni Van Louis dan Ustadz Abdul Malik.

Yang pertama, alumni Gontor 2017. Sempat mengabdi di Gontor Kampus 4 Kediri. Lalu pindah ke Darussalam. Yang kedua, memang asli alumni Darussalam Tasik, tahun 2020.

Dengan mobil panther pondok, kami menapaki aspal Tasik – Rajapolah. Beberapa masjid sudah mengumandangkan adzan. Sekitar 10 menit sebelum sampai di pondok. Saat di pondok, masjid tepat melantunkan syair Abu Nawas. Sebagai penanti iqomah.

Tiba di Guest House, ust Dr. Azmi Syukri Zarkasyi, M.A. memang sudah tiba lebih dulu. Tepatnya dijemput pukul 03.00 di Stasiun Tasikmalaya. Karena beliau dari acara di Sidoarjo. Kemudian kami bersiap sholat subuh di masjid.

Lepas shubuh, saya menikmati udara dingin seputar kampus pondok. Dan memang pondok ini diapit dua pegunungan. Gunung Galunggung di Barat dan gunung Syawal di Timur. Suasana berkabut cukup sejuk. Saya jadi sempat buka laptop dan membuat slide untuk persiapan. Juga sempat submit paper untuk seminar online tanggal 20-21 Juni nanti. Di UIN Pekalongan.

Sarapan tersedia jam 06.30an. usai sarapan, K.H. Dr. Ahmad Deni Rustandi, M.Ag selaku pimpinan pesantren tiba di Guest House. Sarapan bersama, dan menyambut kami dengan sambutan sangat hangat. Beliau alumni Gontor 1999 awal. Bersama ust Dr. Khoirul Umam, M.Ec wakil rektor UNIDA Gontor saat ini. Adik beliau, saya kenal baik. Ust Muhammad Ripaniko. Lulus Gontor 2008. Juga ISID kala itu.

Sajian pagi kami, adalah lontong sayur. Namanya Lengko. Khas Tasikmalaya. Sayur opor ayam yang disuir kecil. Dengan kuah santan agak kecoklatan. Cukup manis. Kebanyakan makanan di situ memang demikian. Manis. Dan tehnya, hangat dan tawar. Ada pula pilihan bubur ayam. Anda pasti tahu saya akan memilih yang mana.

Usai sarapan, sembari menunggu pukul 8, beliau menceritakan banyak hal perkembangan pondok dan lainnya. Barulah beliau membersamai ust Dr. Azmi Syukri Zarkasyi untuk menyampaikan materi tentang Peradaban Islam. Saya dapat giliran agak siang. Dan itu memang sesuai, karena dahulu di pondok sering dapat jam terakhir. Yang rawan ngantuk. Bagi saya, jam itu memang untuk bersenang-senang. Bergembira dengan materi ajar. Karena justru di kala lelah dan suasana sedemikian, pahala justru makin besar.

Ust Azmi menyampaikan banyak hal tentang sejarah Islam. Khususnya dimulai dari Sirah hingga sahabat. Termasuk, menceritakan pengalaman studi beliau di Madinah Al Munawwarah dari S-1 hingga S-3. Kisah tersebut diselingi dengan beberapa poin penting tentang peradaban Islam.

Materi beliau berakhir pukul 11.00 dan dilanjutkan dengan saya. Tentang Berkehidupan di Pondok. Tentu ini materi yang menyenangkan. Seharusnya. Yang seringkali salah paham, bahwa kehidupan dimaknai sempit. Hanya sekedar dimaknai kewajiban. Belum sampai menjadi habit dan kesenangan.

Terdapat sekitar 50an guru. Putra dan putri. Alumni Darussalam Tasik. Juga ada beberapa alumni Gontor. Poin penting, bahwa seringkali dalam berkehidupan sebagai guru, kita merasa canggung dengan santri. Padahal, santri kita adalah sarana penting yang sejatinya membuat kita menjadi terdidik. Melalui mengajar, membina mereka, serta banyak hal lainnya.

Para peserta dari guru ternyata cukup antusias. Nama marhalah mereka: Alfu ‘Afiyah. Dinisbatkan kepada ibu nyai Hj. Nunung Afiah, istri Dr. KH. Ahmad Deni Rustandi yang berpulang beberapa bulan lalu. Demikian, bahwa cobaan untuk tingkat kiai sungguh besar. Tentunya, surganya juga tinggi. Allahumma amin.

Di akhir sesi, ada dua pertanyaan menarik: 1) bagaimana mengurusi anak yang nakal? 2) bagaimana menyikapi anak yg sulit memahami pelajaran?

Dua soal itu memang klasik. Akhirnya saya sampaikan, bahwa dalam membina santri, tetap harus mengikuti arahan dari kiai. Soal anak nakal, di lembaga manapun pasti ada. Entah yang nakal saat jadi santri, atau bahkan menjadi nakal saat lepas lulus nanti. Usaha kita, harus selaras dengan arahan kiai dan Sunnah pondok. Termasuk dimulai dari melakukan pendekatan personal.

Pengalaman saya menjadi musyrif asrama di Gontor, bahwa anak nakal harus kita kategorikan. Arti nakal di sini, lebih pada melanggar disiplin. Dan itu harus ditindak sesuai tingkatannya. Namun selalu ada sisi yang perlu didalami: 1) ada anak yang melanggar disiplin karena dia dalam situasi sial. 2) ada yang melanggar karena lengah atau tidak tahu. 3) ada yang memang ingin melanggar karena tidak betah; atau karena mentalnya yang ‘cari perhatian’ dan ingin ‘beda’. Ini soal pencarian identitas dirinya.

Terpenting, bahwa kita mengikuti arahan kiai. Bahwa anak nakal dibina semaksimal mungkin. Tanpa perlu dibawa emosi diri. Tugas kita adalah menyampaikan. Dan memberi fasilitas pendidikan berupa kegiatan, hingga mendoakan mereka. Selalu ada masa depan yang baik untuk mereka.

Soal kedua, tentang anak yang sulit faham pelajaran. Ini setali tiga uang dengan di atas. Bahwa pembinaan santri melalui pendekatan ibadah, harus selalu diutamakan. Karena, nyantri adalah ibadah thalabul ilm. Yang terpenting adalah prosesnya. Dan orientasi belajar adalah untuk menjadi orang baik. Karena, negara kita bukan sedang kekurangan orang pintar akademik. Toh, orang pandai akademik tapi tidak baik, tetap akan jadi masalah. Pintar itu penting, tapi bukan yang penting pintar. Guru harus fokus menjadikan proses belajar sebagai sarana membina mereka menjadi orang baik.

Akhir sesi, diadakan perfotoan bersama. Dan pamitan. Karena saya akan pulang sore itu juga. Ust Azmi pun, akan pulang malamnya. Usai shalat Zuhur, kami makan bersama pimpinan. Kemudian berkeliling kampus pondok. Seraya diminta mendoakan beberapa proyek pondok yang sedang berjalan. Salah satunya adalah masjid pondok putra. Yang letaknya di Barat kampus putri.

Jumlah santri memang terus berkembang. Sehingga, fasilitas perlu meningkat untuk menyesuaikan itu. Selanjutnya, kami dipertemukan dengan guru-guru pondok. Sekedar untuk silaturahim. Karena mereka memang sedang acara bersama lembaga formal mereka.

Banyak juga guru yang alumni Gontor. Termasuk pula, ust Yunyun Supriono alumni 2003, juga ust Tony Regal 2007, dan yang pernah sekamar dengan saya, ust Aip Wahidzul Lathif alumni 2013. Yang juga sejak awal mengkoordinir kedatangan kami di sini. Termasuk ust Dani Van Louis alumni 2017 yang menjemput saya. Serta akan mengantar saya kembali ke pool bus Budiman sore ini.

Menjelang pukul 13.30, kami kembali ke guest house. Saya meneruskan materi hingga pukul 14.30, dan ust Azmi bersiap siap. Karena akan ada jadwal mengisi di pondok Darussalam kampus 2 Cimaranggas. Juga untuk ikut memberi tausiyah di beberapa pondok yang dirintis alumni Gontor di Tasik. Rencana, beliau memang akan safari keliling. Hingga berakhir malam diantar ke stasiun Tasikmalaya.

Lepas ashar, saya bersiap. Karena dari pondok masih butuh hampir 1 jam ke tempat bus. Dan biasanya macet di kota kabupaten. Namun karena hujan, jadi tidak terlalu. Tepat pukul 15.30 saya diantar. Oleh ust Louis dan ust Heksa yang mengemudi. Ust Heksa alumni Darussalam Tasik. 2016, dan sudah menyelesaikan S-1 Hukum. Asli Sukabumi. Dan akan rencana wisuda Agustus nanti.

Para guru, memang diperbolehkan kuliah di luar. Biasanya, memang Senin hingga Kamis. Pagi hingga sore. Lalu mengajar di pondok sisa sisanya. Termasuk ust Abdul Malik yang menjemput saya shubuh tadi.

Tiba di pool, saya dibantu ust Louis beli tiket dan mempersiapkan semuanya. Termasuk, karena bawaan saya kian banyak. Ada kardus dan tas plastik besar di kanan kiri. Saya sempatkan untuk makan dulu. Sekedar mie goreng dan minum coklat panas.

Tepat pukul 16.50, bus sudah siap. Saya pamitan kepada kedua guru yang ikhlas dan baik hati tersebut. Juga salam kepada asatidz atas sambutan yang meriah.

Bus Budiman jurusan Tasikmalaya-Ponorogo memang hanya 2 trip sehari. Jam 17 dari Tasik, dan jam 14 dari Ponorogo. Pun akhirnya, saya masih ketemu mas Aziz dan mas Dani yang mengantar saya dari Ponorogo kemarin.

Berangkat tepat jam 17, lalu transit beberapa kali di agen. Ciamis, dan lainnya. Lalu istirahat di rest Area Lumbir lagi tepat pukul 21.00, sekaligus saya jamak shalat Maghrib isya. Tiket makan saya tukar pop mie. Untuk saya bawa pulang saja. Bus lanjut berjalan. Hingga agen Kutoarjo. Dan lanjut lagi. Saya terlelap hingga pukul 01.00 dan bus sudah di jalan Jogja Solo. Terlelap lagi. Terbangun saat keluar tol Madiun. Jam 03.40. sangat cepat sekali. Tiba di Ponorogo tepat lepas shubuh. [Taqiyuddin/Ed. Wafi]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *